Home / News / Checkspot / Heru Anwari. Kerja Itu Main

Heru Anwari. Kerja Itu Main

Saya membeli secangkir coffee melt di 7-Eleven seharga $2. Lalu saya duduk di sekitar taman menyambut hari yang hangat menikmati indahnya langit dan matahari. Tidak pernah terbayangkan saya akan bisa tinggal di Melbourne, Australia. Dan berada di sini, di skatepark terbaik di kota ini; Noble Park Skatepark.

Di hadapan saya ramai anak muda yang penuh semangat dan tanpa ragu melakukan trik-trik terbaiknya. Seringkali saya bertanya-tanya, bagaimana bisa saya bisa berada di tempat yang jauh dari kota kelahiran saya di kota kecil berjuluk Serang, negara Indonesia. Dahulu semua ini hanyalah hayalan saya belaka, atau sebatas imajinasi anak muda penuh mimpi. Saya jadi yakin bahwa apa yang kita cita-citakan, bila terus fokus suatu saat akan terwujud.

Riders atau skaters mana yang tidak gembira berada di lingkungan seperti saat ini; skatepark terbaik, bertemu riders dan skaters yang hebat-hebat di bidangnya, dan merasakan atmosfer luar biasa yang saling mendukung satu sama lain. Saya bahkan tak bisa menggambarkan seindah apa tempat ini, yang jelas inilah surga dunia yang kami para altet BMX dambakan.

Summer di Australia berada di akhir tahun, berbeda dengan negara-negara di Eropa yang biasanya di pertengahan tahun. Setiap hari, sekitar pukul 1 siang dengan suhu 15-20 derajat, hangat dan dingin, antara bulan November-Februari menjadi bulan yang paling ditunggu oleh anak-anak muda di sini.

Sebab, kami bisa hangout dan melakukan aktivitas di luar rumah karena suhu udara yang mendukung. Hal ini terjadi karena Australia adalah benua yang berada di bagian selatan, berdekatan dengan Kutub Selatan Antartika. Posisinya berada paling bawah di belahan dunia. Jika musim dingin tiba suhu bisa mencapai minus derajat celcius, susah untuk sekadar berjumpa matahari dan melakukan kegiatan outdoor.

Sungguh saya merasa beruntung berada di Melbourne, kota terbaik di Australia bahkan dunia. Di sini bisa kita temui event seni, fashion juga extreme sport. Percaya atau tidak, di sini memiliki lebih dari 100 skatepark atau BMX park, mungkin menjadi kebanggaan kota atau negara dengan fasilitas skatepark terbanyak dan terbaik di dunia.

Makanya jangan heran bila banyak atlet profesional yang lahir dari kota ini. Selain itu, Melbourne menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melakukan trip atau perjalanan ke Australia. Pemerintah setempat betul-betul memerhatikan industri wisatanya, dan mau saling bekerjasama antara pemerintah, brand product, dan industrinya sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Sama halnya Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memiliki tagline dalam event Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2020: sport science, sport industry, sport tourism. Semoga pemerintah Indonesia bisa mengkombinasikan daya tarik pariwisata, industri, dan sains sebaik di Australia ini.

Saya jadi teringat awal kedatangan saya ke skatepark ini sekitar 3 tahun lalu, tepatnya bulan November 2017. Saat itu saya dibiayai oleh pemerintah bekerja sama dengan Asosiasi BMX Indonesia dan Formi Banten untuk melakukan study banding. Karena saat itu saya akan mengikuti kejuaraan Australia Open BMX Flatland Championship di IMAX Melbourne.

Saya ditemani oleh Bapak Oman, melakukan beberapa perjalanan study banding ke area skatepark BMX park di Australia di antaranya Noble Park Skatepark dan RampFest Indoor Skatepark. Saat itu tak ada di benak saya tempat ini bakal menjadi tempat latihan saya untuk beberapa tahun kemudian.

Dalam perjalanan saat itu, kami melihat dan mempelajari potensi industri olahraga extreme yang bergerak melalui event-event yang diadakan. Juga melihat pergerakan bisnisnya yang didukung pemerintah sehingga olahraga jenis ini bisa berjalan beriringan. Bukan hanya antara industri dan pemerintah akan tetapi anak muda dan generasi saat ini pun turut berperan aktif.

Olahraga extreme ini akan diperlombakan pada kancah internasional seperti Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Termasuk juga di TAFISA World di Lisbon, Portugal. Saya memiliki harapan semoga Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua BMX Freestyle bisa sukses dan menjadi olahraga nomor satu yang diperlombakan di Indonesia. Agar pemerintah bisa lebih perhatian dan mau berperan lebih demi menjalin sinergitas antara generasi dan industrinya agar tidak ada tumpang tindih dan permasalahan yang ada bisa diselesaikan.

Sebagai contoh, yang saya dapati di sini setiap kab/kota atau wilayah memiliki taman dilengkapi dengan beberapa fasilitas di antaranya: BBQ park, taman bermain, dan fasilitas olahraga seperti basket dan gym, sekaligus berdampingan dengan bikepark atau skatepark. Bahkan ada beberapa skatepark yang dibangun sebagaimana fasilitas umum, warga yang tidak tertarik dengan olahraga extreme pun tetap datang berkunjung kemari.

Menariknya, bukan hanya skatepark atau bikepark yang dibangun oleh pemerintah, banyak juga skatepark atau bikepark dibangun oleh pihak swasta dengan fasilitas indoor. Di dalamnya pun ada fasilitas latihan seperti kolam busa dan matras resin, jadi sebelum para skater atau rider melakukan triknya di konkret atau beton, mereka bisa berlatih di fasilitas kolam busa yang disediakan oleh pihak swasta dengan membayar biaya sekitar $15 – $27/season, sekitar 4 jam.

Selain itu, fasilitas di dalamnya ada skateshop, bike rent, dan protect rental juga lesson atau jadwal pelatihan oleh para atlet profesional. Artinya bisa kita lihat peran pemerintah dan swasta bisa berdampingan hadir mendukung olahraga extreme ini dan para rider juga skater bisa menerima keberadaan keduanya tanpa ada pilihan atau permasalahan. Bila industrinya bisa berjalan, maka semua pihak bisa saling menguntungkan.

Kembali lagi ke Noble Park Skatepark, saat pertama kali ke sini, saya bersama teman-teman Indonesia hanya bisa mengagumi keindahan skatepark yang dibangun dengan transisi antara bowl dan street area, dan takjub karena beberapa rider atau skater-nya beragam, mulai dari umur 5 sampai 50 tahun masih menikmati olahraga extreme ini.

Di skatepark inilah saya menulis catatan ini sesaat sebelum dan sesudah melakukan latihan setiap harinya. Sesekali juga saya duduk santai sambil merenung dan memandang betapa besarnya potensi industri olahraga ini di masa depan.

Kenapa saya berpikir begitu karena pernah ada momen ketika saya melakukan trick flatland yang mereka jarang lihat. Tampak betul orang-orang di sini sangat tertarik juga kagum dengan keberadaan orang asia atau Indonesia yang turut berlatih di benua ujung dunia ini, mereka menyebut kami insane atau salute.

Suatu hari, ada seorang anak berumur 5 tahun menegur saya. Ia bertanya:
“Hai, apakah kamu seorang rider profesional?”
Saya tersenyum kepadanya lalu menjawab, “Bukan, saya hanya pemain BMX biasa yang sedang berlatih. Apa kamu ingin menjadi pemain profesional?” tanyaku. Lalu dengan bangganya dia berkata, “Tentu. Saya akan menjadi professional rider!” Saya tersenyum dan mengatakan semoga kamu bisa mencapainya.

Saya melihat semangat dan keinginan kerja keras yang sudah tertanam di benak anak umur 5 tahun itu. Betapa ia memiliki motivasi untuk menjadi atlet profesional. Hal itu bisa kamu temui pada anak-anak lainnya yang memiliki minat yang sama di sini. Mereka akan rela datang setiap hari ke skatepark sepulang sekolah untuk berlatih atau untuk melihat orang-orang berlatih.

Bagi saya ini jarang sekali ditemukan, terlebih di tempat kelahiran saya. Tampak

betul orang tua mereka sangat total dalam memfasilitasi cita-cita anak-anaknya. Merek

a membelikan sepeda dan mengajari safety riding. Dan tentu saja mereka mau mendampingi anak-anaknya latihan sampai jam latihan selesai. Betapa membahagiakannya melihat anak-anak sudah tahu dirinya ingin menjadi apa bila dewasa nanti.

Masih banyak kisah menarik yang ingin saya ceritakan. Nanti saya akan membahas lagi mengenai industri dan generasi muda di sini yang lebih lengkap di sesi selanjutnya!

Check Also

BMX Bekasi Reborn

Masih Inget dengan Rian …Tony..Andi…dan Yuda?…para pemain BMX di Era 2005 SD 20015 mungkin masih …